Logo

Desa Tajok Kayong

Kabupaten Ketapang

Home

Profil Desa

Infografis

Listing

IDM

Berita

Belanja

PPID

Cegah Karhutla, Petani Nanga Tayap Beralih ke Pertanian Ekologi Terpadu

Cegah Karhutla, Petani Nanga Tayap Beralih ke Pertanian Ekologi Terpadu

Invalid Date

Ditulis oleh Administrator

Dilihat 15 kali

Cegah Karhutla, Petani Nanga Tayap Beralih ke Pertanian Ekologi Terpadu
 Kini masyarakat di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang mulai perlahan-lahan meninggalkan cara lama dalam pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar.    

Meskipun dengan cara membakar anggapan lahannya akan semakin subur disebabkan abu dan arang hasil pembakaran itu, namun mereka semakin paham bahwa dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan itu justru banyak.    

Untuk menggantikan cara bertani lama itu, mereka sudah mulai beralih ke sistem Pertanian Ekologi Terpadu (PET) yang merupakan program dari PT Sinar Mas.    

Adalah kelompok tani  di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang salah satunya.    

Wakil Ketua Kelompok Tani Desa Mekar Jaya, Warsat Adi Warsono menjelaskan bahwa lahan yang telah digarap untuk menerapkan sistem pertanian PET ini baru sekitar setengah hektare lebih, dari total luas satu hektare yang khusus dialokasikan oleh pemerintah.    

“Lahan yang kami garap baru setengah hektare lebih, sisanya itu masih ilalang. Nanti akan kami garap lagi setelah lahan yang ini panen,” katanya.    

Dijelaskan dia, pada dasarnya penerapan sistem pertanian PET ini baru dilakukan sebulan yang lalu, dan lahan ini merupakan garapan pertama bersama kelompok taninya. Terkait dengan jenis tanaman yang ditanam, yakni cabai, timun dan bawang. 

“Kalau lahan yang sebelah sana (yang belum digarap) sudah dibuka, nanti akan ada tambahan, seperti labu, pare, gambas dan nanam bawang juga di sana,” jelasnya.    

Sebelumnya, ia bercerita bahwa dari lahan yang digarap ini adalah lahan tidur yang dipenuhi dengan ilalang. Ketika program PET masuk ke desanya, dan masyarakat dibina dan diberdayakan oleh yayasan FIELD, kemudian dari pemerintah desa mengalokasikan lahan seluas satu hektare yang khusus dikelola oleh kelompok taninya.    

“Kami buka dengan cara manual, ditebas lalu kami cangkul buat bedengan,”katanya.    

Jika boleh jujur, terangnya, dalam pembukaan lahan ini terbilang berat, pasalnya jika berkaca pada sistem bertani sebelum adanya program PET, yakni dengan cara membakar, tentunya tidak banyak tenaga yang terkuras. Namun, dengan sistem pertanian yang baru diterapkan ini terbilang ribet dan tentunya banyak tenaga dan biaya yang dikeluarkan.    

Misalnya saja ilalang yang ada di lahan itu, pada saat pembukaan, ia bersama anggota kelompok taninya bergotong royong menebas. Setelah selesai ditebas, ilalang dikumpulkan satu tempat yang akan digunakan sebagai bahan campuran dengan kotoran ternak untuk pembuatan pupuk kompos.    

“Setelah itu baru kami sama-sama membuat bedengan,” terangnya.   
Meskipun terbilang berat, namun Adi sudah mulai merasakan perbedaan antara cara bertani dengan sistem ini dengan sistem bertani menggunakan cara bakar. Kata dia, dengan sistem pertanian organik ini, produktifitas panen terbilang cukup besar. Misalnya saja cabai dan timun. Tanaman cabai, kurang dari satu bulan sudah berbuah. Begitu juga dengan timun, ukurannya lebih besar dibanding dengan yang lama.    

Terkait dengan bibit, alat pertanian seperti cangkul, arit dan bahan lainya hingga pemberdayan pembuatan kompos telah disediakan oleh perusahaan. Masyarakat hanya diberikan bibit dan alat pertanian, dan diberi pengetahuan mengenai pertanian berbasis ekologi.    

“Bibit pihak perusahaan yang bantu. Kami juga diajarkan caranya buat pupuk kompos, ada yang cair dan juga yang padat,” katanya.        

Sedangkan hasil panen, sementara sebagian akan dimasukkan ke kas kelompok dan sebagian lagi akan digunakan kembali sebagai modal.    

“Jumlah anggoota dalam kelompok tani sebanyak 16 orang. Mengenai pembagian hasil pertanian, dikarenakan sistem pertanian ini baru saja dimulai dengan luas lahan yang tidak begitu besar, maka kelompok tani telah menyepakati bahwa sebagian hasil pertanian nantinya akan digunakan untuk kas kelompok dan sebagian lagi akan kembali dijadikan modal,”terangnya.    

Tidak berhenti di situ, dampak dari program PET ini juga dirasa oleh  Ketua Kelompok Tani desa Tajok Kayong, Mardiana. Ia mengatakan bahwa apa yang didapatkan oleh kelompok taninya dari PT Sinar Mas akan digunakannya sebaik mungkin. Baik itu berupa alat-alat pertanian maupun ilmu yang telah disalurkan ketika pembinaan.    

Diceritakan dia, sebelumnya adanya program PET ini, masyarakat di desanya kerap kali membeli kebutuhan pokok di luar, jarang sekali yang mau bertanam sayur-sayuran.      

Masyarakat, terangnya, lebih memilih membeli di pasar, karena berfikir lebih praktis. Namun, katanya jika dikalkulasikan uang belanja sayur di pasar, jumlahnya pengeluaran terbilang besar, hanya saja masyarakat jarang sekali menyadari hal itu.      
”Itu terasa sekali, uang belanja sayuran bisa kami simpan untuk beli lauk,” terangnya.      

Selain dia, ada juga anggota kelompok tani Lembah Hijau dari Desa Tajok Kayong, Mardiana mengatakan bahwa kearifan lokal secara turun temurun mengajarkan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar.      

Selain karena lebih praktis, abu dan arang hasil pembakaran itupun dipercaya dapat mempersubur tanah.  Namun, ketika ada sosialisasi dari pihak perusahaan mengenai dampak-dampak dari kebarakan hutan dan adanya pembinaan program PET ini, ia dan kelompok taninya mulai menerapkan sistem pertanian ini.      

Tidak hanya itu, guru mata pelajaran Muatan Lokal di SMP NEGERI 10 Nanga Tayap, Maspupah yang kebetulan ikut tergabung dalam pembinaan dari pihak perusahaan Sinar Mas mengenai program PET, saat ini sudah menerapkan ilmu pertanian ekologi kepada murid-muridnya di sekolah.      

Di sekolah tempat ia mengajar telah disiapkan satu lahan khusus dengan luas kurang lebih satu hektare, yang kemudian digunakan murid-murid untuk belajar bertani dengan cara organik.      

“Itu mulai kami terapkan di mata pelajaran Mulok (Muatan Lokal). Murid-murid, kami ajarkan bagaimana caranya membuka lahan tanpa dengan membakar, serta pembuatan pupuk hingga pestisida tanpa ada bahan kimia,” jelasnya.      

Saat ini, sudah ada beberapa jenis tanaman yang ditanam di lahan tersebut. Di antaranya adalah cabai, timun, terong, labu dan ada beberapa jenis sayur daun-daunan.      

“Alhamdulillah dengan adanya program PET ini, manfaatnya banyak sekali. Kami di sekolah bisa menyalurkan lagi ke murid-murid,” ucapnya.      

Dia bercerita, beberapa tahun belakangan masyarakat di tempatnya mengajar pernah trauma terkait dengan kebakaran hutan dan lahan di sana. Di mana ada beberapa masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar, namun ternyata api tersebut merembes ke lahan pertanian masyarakat yang lain. Banyak jenis tanaman yang saat itu gagal dipanen.      

“Untuk mencari alternatif lain, kami terkendala pengetahuan, sebelum akhirnya program bertani organik ini diajarkan ke kami,” tuturnya.      

CEO PT Sinar Mas Agribusiness and Food Wilayah Kalbar, Susanto Yang mengatakan, Pertanian Ekologi Terpadu (PET) bukan hanya membina masyarakat untuk tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar, tetapi juga mengajarkan bagaimana bertani dengan sistem pertanian yang ekologis atau pertanian organik.    

“Jadi dalam pertanian organik ini tidak menggunakan pupuk kimia, tidak menggunakan pestisida kimia. Dan tentunya pengelolaan yang ramah lingkungan,” jelasnya.    

Dalam pemberdayaannya, PT Sinar Mas mendatangkan petani pendamping yang berpengalaman atau petani ahli. Ada dua pihak yang pendamping yang mendampingi masyarakat dalam menerapkan PET ini, yakni petani ahli yang langsung didatangkan oleh pihak perusahaan yang kemudian ditempatkan di masing-masing desa. Pihak yang kedua adalah yayasan Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD).    

“Ada delapan desa. Lima desa yang kita kelola sendiri (melalui petani pendamping), sedangkan yang tiga desa kita coba kembangkan melalui Yayasan FIELD,” ujarnya.    

Sementara itu, Camat Nanga Tayap, Hafid mengapresiasi dengan apa yang telah dilakukan oleh PT Sinar Mas. Program semacam ini bagi dia sangat dibutuhkan masyarakat, selain akan meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian, sistem pertanian organik ini juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh, sebab dalam kandungan hasil pertanian tersebut tidak mengandung bahan kimia, seperti pestisida, pupuk berbahan kimia dan lain sebagainya.    

“Ini sangat potensi jika bisa dikembangkan oleh desa, selain sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari, inikan (hasil pertanian PET) kalau sudah bisa berkembang pesat kita bisa carikan pasarnya,” ungkapnya.    

Selain itu, ia juga mengingatkan kepada delapan desa ini untuk terus mengembangkan sistem pertanian ini. Pembinaan dan pemberdayaan, jangan hanya berharap dari pendampingan dari pihak perusahaan saja. Desa bisa menggalokasikan dana desanya untuk pemberdayaan ini.    

“Nanti kita (pihak pemerintahan kecamatan) akan turut membantu juga ke kepala-kepala desa, celah-celah mana saja dana ini bisa dianggarkan di APBDes,” tutupnya. 

Sumber: https://www.suarapemredkalbar.com/read/advertorial/20032019/cegah-karhutla-petani-nanga-tayap-beralih-ke-pertanian-ekologi-terpadu  

Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Desa Tajok Kayong

Kecamatan Nanga Tayap

Kabupaten Ketapang

Provinsi Kalimantan Barat

© 2025 Powered by PT Digital Desa Indonesia